INGIN KAMPUNG MOGA MELEK HURUF

Sabtu, 14 Maret 2009 |

Oleh :ARFIANTO PURBOLAKSONO  

Desa Moga sebuah daerah yang terletak di daerah lereng Gunung Slamet, termasuk dalam wilayah Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Sebuah tempat yang sejuk dan dihiasi pemandangan panorama pegunungan yang menjulang, serta hamparan hijaunya tanaman hasil tani di daerah tersebut.  

Desa itu secara sosio kultur sangat kuat dalam religiusitas warga masyarakatnya. Ini terlihat dengan adanya tiga pondok pesantren di desa ini, yang dihuni oleh ratusan santrinya, dan sekolah yang berbasis keagamaan di wilayah itu. Di setiap gang terdapat mushola dan terdapat dua masjid di desa tersebut yang selalu diisi penuh oleh warga masyarakatnya ketika masuk waktu shalat. Gema sholawat serta doa tidak henti-hentinya dipanjatkan ketika akhir shalat. Dan ternyata hal inilah kebiasaan masyarakat moga yang telah berjalan sejak lama, tak ayal daerah ini sering di sebut “ Serambi Mekahnya “ Kota Pemalang. 
 
Desa Moga yang ramah ini, ternyata menyimpan permasalahan yang cukup pelik di kemudian hari. Lalu apakah permasalahan itu? Permasalahan itu adalah Buta Aksara yang dialami oleh sebagian besar warga Desa Moga. Tercatat sebanyak 102 warga masyarakat dengan usia produktif ( 14-44 Tahun ) mengalami buta aksara, dari 1092 KK yang ada di desa tersebut ( Hal ini yang tercatat dinas Diknas Kab.Pemalang ). Data tersebut memang tidak dapat mewakili secara menyeluruh kondisi buta aksara di Desa Moga. Apalagi data terakhir adalah data yang diperoleh tahun lalu, dan disinyalir angka diatas bertambah. 
 
Jika dilihat permasalahan diatas, permasalahan buta aksara di Desa Moga dikarenakan rendahnya pendapatan warga masyarakat Moga sehingga faktor pendidikan kurang diperdulikan oleh masyarakat sekitar. Kebanyakan warga yang lulus hingga perguruan tinggi sebanyak 44 orang dan yang lulus sampai SMU sebanyak 237 orang. Selebihnya mereka putus sekolah dari tingkat SD maupun tingkat SMP. 
 
Mahalnya biaya pendidikan menjadi keluhan utama dari masyarakat Moga yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan banyaknya penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani hutan, buruh bangunan serta pedagang, biaya pendidikan seperti layaknya sesuatu yang tergantung tinggi di mata mereka. Tak heran jika banyak orang yang putus sekolah tingkat dasar mengalami lupa aksara sehingga menyebabkan mereka kembali buta aksara. 
 
Gambaran masyarakat buta aksara memang identik dengan kantong kemiskinan pengetahuan, keterampilan, dan keterbelakangan. Oleh karena itu, fenomena desa tertinggal alias desa miskin memang senantiasa bersentuhan langsung dengan karakteristik masyarakatnya yang bercirikan keterbatasan sumber daya baik sumber daya alam apalagi sumber daya manusianya. 
 
Banyaknya lembaga pendidikan keagamaan serta pengajian-pengajian rutin yang diselenggarakan di daerah tersebut sebenarnya dapat dijadikan modal sosial bagi warga masyarakat Moga. Namun sampai saat ini, hal tersebut belumlah menunjukkan peranan yang sangat signifikan. Pesantren maupun kelompok pengajian setempat terlalu asik dengan mengkaji kitab-kitab yang menjadi bahan rujukan beragama mereka. Sehingga hal yang paling urgent seperti kemampuan baca, menulis dan berhitung bagi masyarakat sekitar tidaklah terlalu dihiraukan. 
 
Strategi pemberantasan; melalui pendekatan kebudayaan 
 
Melihat kompleksitas permasalahan pendidikan di Desa Moga, maka barang tentu ini menjadi persoalan bersama bagi seluruh elemen yang ada di desa tersebut. Pemerintah daerah, perangkat desa, serta organisasi keagamaan yang berada di daerah tersebut seharusnya dapat menjadikan permasalahan buta aksara ini menjadi hal yang urgent. Oleh karena itu jika tidak segera dilakukan upaya yang nyata dari seluruh elemen diatas, maka Desa Moga yang banyak menyimpan potensi alam akan sangat sulit berkembang. Jika tidak di dahului dengan pembangunan sumber manusianya itu sendiri, yaitu warga masyarakat Moga. 
 
Dengan pemberantasan buta aksara yang menjadi permasalahan yang besar bagi Desa Moga, maka menurut penulis, strategi yang coba dilakukan melalui pendekatan kebudayaan lokal Desa Moga sendiri. Apalagi jika kita melihat skema globalisasi dengan spirit neoliberalismenya, maka akan menjadi tantangan besar bagi warga Moga ke depannya. Tuntutan bagi negara yang mengikuti arus besar globalisasi mau tidak mau bahwa kebudayaan lokal pun akan terkikis dan beralih kepada kebudayaan ala neoliberalisme. Ancaman inilah yang seharusnya dapat kita proyeksikan ke depan bahwa negara ini akan menjadi pasar dunia. Bahkan Desa Moga pun yang menyimpan potensi alamnya akan terbawa menjadi pasar itu sendiri. Dan akhirnya masyarakat Moga pun akan menjadi korban skema besar tersebut, jika tidak dilakukan pembangunan sumber daya manusianya. Kemudian bagaimana strateginya, penulis berpendapat bahwa kita harus dapat mendudukan dahulu apa itu kebudayaan? Ashadi Siregar mengungkapkan bahwa Kebudayaan dapat dilihat bagaimana warga berbuat sesuatu yang bermakna (sebagai proses) dan hasil perbuatan (produk). Manakala perbuatan dan hasilnya ini dicitrakan melekat pada kolektivitas suatu daerah, maka disebut sebagai kebudayaan daerah (lokal). Kebudayaan merupakan sebuah praktik yang dilakukan oleh warga masyarakatnya sehari-hari. Makna dari sebuah kebudayaan pada hakikatnya ada tiga poin yang ada di dalamnya, yaitu nilai keilmuan, nilai etika, dan nilai estetika. 
 

Oleh karena itu kegiatan berkebudayaan dapat dikatakan bahwa jika warga masyarakat melakukan kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang mencakup tiga poin diatas. Maka persoalan kebudayaan sebenarnya ialah bagaimana penyiapan masyarakat kepada kapasitas tertentu dan berada di dalamnya. Proses penyiapan ini disebut dengan proses pendidikan. Jika kita meninjau permasalahan diatas maka ternyata ada yang salah jika kita mengartikan bahwa kebudayaan terpisah dengan permasalahan pendidikan. Pada saat ini, pendidikan pun hanya dijadikan produk bukan sebuah proses berkebudayaan. Maka tidak aneh jika melihat pendidikan kita yang terjual dengan harga yang setinggi langit. Sehingga banyak anak bangsa ini yang tidak dapat mengenyamnya. Begitu pula apa yang terjadi di daerah Desa Moga. Desa Moga yang memiliki kebudayaan yang bersumber akan religiusitas warganya seharusnya menjadi modal awal bagi proses pendidikan tersebut. Lembaga seperti pesantren maupun kelompok-kelompok pengajian menjadi penting peranannya sebagai institusi pendidikan. Institusi pendidikan disini tidak lagi hanya dikotomikan antara institusi pendidikan formal yaitu sekolah umum dengan pesantren maupun pengajian-pengajian tadi. Tetapi fungsi dari institusi pendidikan adalah memproses warga agar memiliki kemampuan berpraktik kebudayaan, dengan orientasi utama untuk dimensi keilmuan, disusul kemudian dimensi etika dan estetika. Jadi modal awal dari Desa Moga ini yang memiliki beberapa pesantren dan kelompok-kelompok pengajian seharusnya dapat di optimalkan, asal juga di berengi oleh perubahan paradigma yaitu bagaimana pesantren serta kelompok pengajian tadi bukan hanya sebagai wadah pengkajian kitab-kitab yang menjadi rujukan mereka menuju akhirat kelak tetapi juga pendorong bagi pembangunan sumberdaya manusia Desa Moga.***

diunduh dari Aspirasi anda http://www.pemalangkab.go.id

1 komentar:

Budiyanto mengatakan...

Saya minta tlg banget,aku kehilangan kontak dg saudara Mabruroh yg berada di ds.moga kec.moga.Nama bapaknya Ali Falakhi,beliau salah satu guru di madrasah NU moga.dan ibunya ketua Muslimat NU.Bagi siapa aja yg tau keberadaan dia,saya mohon dgn sangat bantuannya utk dpt memberikan infonya.aku budiyanto 081382681258/boedyan_80@yahoo.com.sg.Suwun

Posting Komentar