Berita dari Tetangga Sebelah...

Rabu, 18 Maret 2009 |

Banyumas Siapkan Lima Unit Pengolahan Pupuk Organik

BANYUMAS, KOMPAS.com- Pemerintah Kabupaten Banyumas saat ini sedang menyiapkan lima unit pengolahan pupuk organik di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Kebasen, Jatilawang, Ajibarang, Kemranjen, dan Sumpiuh. Salah satunya sudah mulai dioperasikan, yaitu di Desa Adisana, Kecamatan Kebasen.

Pengolahan pupuk organik tersebut dikelola oleh petani setempat dengan mendayagunakan bahan baku yang ada di sekitar lingkungan, seperti jerami, kotoran ternak, maupun sampah kebun.

Bupati Banyumas Mardjoko, Rabu (18/3), mengatakan, bantuan dari setiap unit pengolahan pupuk organik bernilai Rp 40 juta. Sebagai proyek percontohan, khusus unit pengolahan pupuk organik untuk Desa Adisana diberikan bantuan tambahan berupa dana pendirian rumah pupuk sebesar Rp 60 juta.

Bupati mengatakan, proyek percontohan rumah pupuk organik di Desa Adisana itu bisa menjadi model bagi empat kecamatan lainnya penerima bantuan tersebut. Selain itu, dia mengharapkan, agar kecamatan lainnya yang belum menerima bantuan pengolahan pupuk organik tersebut bisa mulai mencoba secara swadaya.

Dengan mengolah pupuk organik secara mandiri, lanjutnya, seluruh sampah pertanian dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Karenanya, dia mengimbau agar petani tak lagi membakar jerami padi atau pun membuang sampah daun dari kebun. Hal itu karena bahan baku utama pupuk organik adalah kedua sampah pertanian tersebut dan juga kotoran ternak.

"Utamanya jerami, sebaiknya petani tidak membakarnya. Karena selama ini sudah menjadi kebiasaan di kalangan petani membakar jerami setelah melalui panen," katanya.

Menurut ketua kelompok tani Desa Adisana, Suwito, sebetulnya kapasitas produksi dari satu unit pengolahan pupuk organik bisa mencapai satu ton per hari. Namun karena baru sebagian kecil petani yang memanfaatkannya, sehingga produksinya belum bisa maksimal.

Sekarang ini, lanjutnya, baru ada 102 petani yang aktif bekerja memproduksi pupuk organik dengan menggunakan fasilitas bantuan pemerintah tersebut. Karena itu pula, setiap hari produksinya baru berkisar 100 kilogram per hari.

"Kami pun berusaha agar petani lainnya dapat tertarik untuk ikut memproduksi pupuk organik ini," ucapnya. Sumber: Kompas.com (18/3/2009)***

Catatan Redaksi:
Semoga Kab. Pemalang lebih peduli lagi terhadap Petani dan mengikuti jejak Kab. Banyumas.
Usaha yg patut ditiru untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk pabrikan.
Disamping itu menyelamatkan kesuburan tanah sebagai wujud dari Pertanian yang berwawasan lingkungan. "Lingkungan Terawat, Produksi meningkat, Petani Sehat".
Karena produk organik adalah yang minim oleh residu kimia (baik pupuk maupun pestisida).