KETIKA MUSIM TANAM TIBA

Minggu, 03 Januari 2010 |

Pemalang 31/12/2009. Di sela-sela aktifitas bertani, dimana sebagian orang sibuk di sawahnya masing-masing dari mengolah tanah sampai tanam, dan beberapa orang sibuk mencabuti benih padi kemudian mengangkutnya kedalam gerobak.
Pemandangan inilah yang begitu menarik perhatian saya, JUAL BELI WINIH karena hal serupa jarang terjadi di daerah Jawa Barat dimana selama ini aku merantau. Apa iya untung??? Begitulah pikiranku saat itu.
Sore itu langit cerah tidak ada tanda-tanda mendung, angin berhembus sepoi-sepoi dihamparan sawah. Sederet bedengan persemaian berjajar rapi, sebagian sudah mulai dicabuti, ditengah tertancap plang berukuran kecil dengan tulisan: BPK SUKIRNO JUAL WINIH.
Seorang pemuda dengan sigap mencabuti winih (bibit padi) yang berumur 20 s/d 25 HSS (hari setelah sebar), setiap gepokan rumpun winih ia ikat dengan cekatan. Dari berpuluh-puluh gepokan rumpun akhirnya diangkut ke dalam gerobak yang terparkir dipinggir jalan. Seorang perempuan muda nampak memperhatikan sembari tangannya memegang uang. Barangkali inilah pembelinya.
Bedengan persemaian yang berjajar itu berukuran 1x10 m, sebanyak 10 bedengan berjajar namun 3 bedengan sudah bersih berpindah ke atas gerobak. Transaksi jual benih winihpun terjadi. Ternyata pemuda tadi bernama Kirin (27) setelah memperkenalkan diri iapun pun bercerita panjang lebar seputar bisnis winih tersebut.
“ Lumayan Mas, jual beli winih ini menguntungkan dari setiap bedeng dijual Rp.40 ribu, ongkos cabut setiap bedeng Rp.10 ribu”. Katanya menjelaskan.
“ Kalau lagi ramai bisa mengantongi upah Rp. 50-80 ribu, winih saya antar sampai ke tempat”. Ucap Kirin sambil menyeka keringat.
“ Kalau transaksi sih urusan Bos, saya hanya sebagai kuli cabutnya”.
“ Padi varietas apa yang ditanam, kang?” kataku
“ Disni ada dua varietas mas, yaitu varietas 10 dan ciherang!” jawabnya bersemangat.
“ Lho..?, emang ada varietas 10?” kataku penasaran.
“Ya..!, orang-orang menyebutnya demikian”. Kirin semakin bingung.
“ Emang menurut Mas varietas apa?” balik ia bertanya.
“ Mungkin yang dimaksud IR-64 ya?, biasanya petani suka disingkat.!?” Kataku menjelaskan.
“ Oo..ya..ya itu Mas, kemarin ingat seorang petugas menyebut seperti itu.”
Obrolan sore itu begitu akrab setelah ia menawarkan sebatang rokok kretek kepadaku, tapi dengan halus aku tolak, hanya secangkir kopi yang aku terima sebagai pelumas ditenggorokanku yang mulai kering.
Obrolan mengalir sesekali ditimpali guyonan riuh rendah seperti asap rokok kretek yang turun naik disapu angin sawah. Kopi panas kental hitam serasa nikmat meringankan beban seorang Kirin yang berpeluh bermandikan lumpur sawah.
Aku terdiam sejenak, sementara Kirin mempermainkan asap rokok dengan mengepulkan asap membentuk lingkaran kecil kemudian membesar akhirnya luruh tersapu angin sawah.
Lingkaran kecil yang terbuat dari asap rokoknya yang tak pernah membesar itu bagaikan cita-citanya yang tak pernah terwujud menjadi besar untuk ukuran seorang kuli cabut winih seperti dia. Ada pelajaran berharga dari obrolan sore itu, semangat berusaha, nerimo, dan ikhlas menjalaninya hidupnya apa adanya.
“Ayam saja diberi rezeki, apalagi saya manusia”. Katanya sambil terkekeh.
“ Kalau kita berusaha pasti akan menuai hasil, Mas?” lanjutnya lagi.
Wow..betapa indahnya dua kalimat yang terucap dari seorang kuli macam Kirin, akhirnya jabat erat sebagai salam perpisahan sore itu diwarnai dengan tukar nama dan alamat.
“Saya senang sekali berkenalan dengan anda”. Kataku sambil berpamitan.
Berusaha dan menuai hanyalah dua pilihan yang berkibar di sebuah jalan panjang yang berliku ketika kita harus memanfaatkan lingkungan, memuliakan kehidupan.
Untuk menempuhnya tidak cukup hanya bertopang dagu, ada kerja keras di dalam setiap langkah dan prosesnya. Harus ada keringat, tenaga dan pikiran yang tercurah, hati yang diliputi kecemasan dan harapan, kegagalan dan keberhasilan. Memang kita akan menuai apa yang kita tanam dan merasakan hasilnya penuh nikmat.(uripsr@ymail.com)***